Bisnis

Perbedaan Antara Pinjaman Dana Tunai Syariah dan Kredit Konvensional

Terdapat beberapa jenis pengajuan dana pinjaman, diantaranya adalah pinjaman dana tunai syariah dan kredit konvensional. Dua hal tersebut sebenarnya sudah lama beredar di masyarakat, tapi masih banyak yang belum mengetahuinya. Keduanya dapat digunakan ketika Anda membutuhkan pinjaman dana cepat cair.

Jelas ini tidak terlalu mengherankan apabila mengingat banyaknya masyarakat yang belum paham prinsip yang digunakan dalam bank syariah dibandingkan dengan pemahaman umum masyarakat tentang bank konvensional.

Perlu diketahui bahwasanya bank syariah memiliki lebih banyak opsi produk keuangan yang dapat ditawarkan kepada masyarakat. Tidak jauh berbeda dengan bank konvensional, bank syariah juga dapat memberikan pinjaman dana tunai yang dapat diakses siapapun baik untuk kepentingan bisnis atau sekedar bersifat konsumtif.

Pinjaman Dana Cepat
Pinjaman Dana Cepat

Selain itu, banyak juga dari berbagai bank konvensional di Indonesia yang membuka cabang khusus berbasis syariah. Walaupun demikian, sangat penting untuk Anda ketahui dan pahami mengenai perbedaan antara pinjaman dana tunai syariah dan pinjaman dari bank konvensional atau yang kita kenal sebagai kredit.

1. Bunga

Dalam prinsip pinjaman konvensional atau kredit, pinjaman diberikan kepada debitur yang harus membayarnya beserta dengan bunganya. Berbeda halnya dengan prinsip syariah yang tidak memperbolehkan adanya bunga.

Namun prinsip pinjaman dana tunai syariah menggunakan sistem akad jual beli atau yang biasa dikenal dengan istilah muharabah, sewa dengan merubah akta kepemilikan, dan juga capital sharing.

Sebagai contoh, Anda sedang membutuhkan pinjaman dana cepat untuk membeli sebuah mobil seharga Rp 140 juta. Kemudian pihak bank akan membeli mobil tersebut dan akan menjualnya kembali kepada Anda seharga Rp 145 juta. Selanjutnya jumlah tersebut lah yang akan diangsur oleh nasabah kepada bank yang dimana keuntungan dari penjualan tersebut merupakan hak bank.

Dalam bentuk sewa, bank akan membelikan barang yang Anda inginkan dan Anda hanya harus menyewanya hingga jangka waktu tertentu. Setelah menyewa beberapa lama, Anda sebagai nasabah dapat membelinya.

Selain itu, ada juga sistem capital sharing yang berarti baik bank ataupun nasabah menginvestasikan modal pada suatu hal, misalnya bank memberikan biaya sebesar 60% dari pembelian mobil dan pihak nasabah akan dikenakan 40%. Dan, pada kemudian hari nasabah dapat membeli 60% dari kepemilikan bank tersebut agar mobil tersebut bisa jadi miliknya.

2. Resiko

Kebijakan pada bank konvensional umumnya tidak akan ikut menanggung beban resiko yang diemban oleh nasabahnya. Namun, pada prinsip syariah, pihak bank juga akan ikut menanggung sebagian resiko kreditur tersebut.

Contohnya, Anda meminjam uang sejumlah Rp 100 juta pada sebuah bank untuk digunakan sebagai modal usaha. Pada umumnya, bank konvensional akan mewajibkan kreditur untuk membayar kembali pinjaman dengan bunga yang sudah ditentukan walaupun usahanya hanya menghasilkan Rp 75 juta.

Namun, beda halnya dengan prinsip syariah yang akan ikut menanggung sebagian kerugian dari usaha nasabahnya.

3. Halal

Apabila Anda mengajukan pinjaman dana cepat pada bank syariah, Anda wajib menyertakan tujuan penggunaan dana tersebut karena pada dasarnya bank syariah hanya memberikan dana pinjaman untuk kepentingan yang halal.

4. Ketersediaan

Dalam hal ketersediaan pinjaman, baik secara syariah maupun konvensional tidaklah jauh berbeda. Namun, pinjaman syariah memiliki produk yang dapat Anda gunakan untuk kepentingan tertentu yang tidak dimiliki oleh pinjaman konvensional, misalnya untuk kepentingan pendidikan, haji dan umroh, dan lain sebagainya.

Show More

Related Articles

Check Also

Close